CARI

Tampilkan postingan dengan label Pernikahan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pernikahan. Tampilkan semua postingan

Minggu, 17 Juni 2012

Tanda Anda Memiliki Kehidupan Pernikahan yang Sehat

Kehidupan pernikahan yang sehat berbeda dengan pernikahan yang bahagia. Seringkali dalam tahap pertama pernikahan, pasangan menjadi sering bertengkar. Namun hal tersebut juga dapat menjadi bagian terindah dalam pernikahan mereka.

Anda bisa bahagia dalam pernikahan jika semua kebutuhan terpenuhi. Tapi, hubungan pernikahan yang sehat lebih dari sekedar kebutuhan dan kepuasan. Jika telah mencapai tahap yang stabil dalam pernikahan, maka ini adalah waktu yang tepat bagi Anda untuk mengikuti tes yang dikutip dari Bold Sky, sehingga dapat melihat apakah hubungan pernikahan Anda termasuk hubungan yang sehat.

1. Memiliki Waktu Pribadi Masing-masing
Ketika Anda dan suami memiliki aktivitas masing-masing di akhir pekan, sebagai pasangan berarti Anda berdua telah terbiasa untuk menghargai dan memberikan ruang pribadi untuk melakukan kegiatan favorit tersendiri. Memberikan ruang pribadi yang cukup dan tidak membuatnya merasa terkekang karena status perkawinan adalah kunci dari setiap pernikahan yang sehat.

2. Memiliki Waktu Bersama
Walaupun Anda dan pasangan memiliki acara dengan teman masing-masing, namun ketika waktunya ingin bersama, si suami bisa membatalkan janji tersebut. Hal ini menunjukkan biarpun Anda memiliki lingkaran pertemanan yang independen, pasangan masih memiliki waktu untuk menghabiskannya bersama Anda. Mengerjakan sesuatu dan menikmatinya bersama merupakan tanda sebagai sepasang suami istri yang sudah berada dijalur pernikahan yang tepat.

3. Tidak Mudah Cemburu
Ketika Anda melihat suami keluar kantor dengan seorang wanita cantik, namun Anda tidak langsung memarahinya dengan emosi yang meledak-ledak, adalah salah satu tanda Anda memiliki kehidupan pernikahan yang sehat. Dalam dunia kerja, tentunya kita akan sering bertemu dengan orang-orang yang menarik dan seharusnya tidak mengganggu ketenangan pasangan atau membuat mereka merasa tidak aman dengan emosi yang berlebihan.

4. Memberi Perhatian
Ketika suami mengantar Anda pergi atau pulang kerja. Walaupun dia tahu, bahwa Anda cukup mandiri untuk bisa pulang ke rumah sendiri, tapi dia memberikan perhatiannya dengan menunjukkan kekhawatirannya untuk memastikan Anda sampai di rumah dengan selamat.

5. Mengetahui Info Penting Masing-masing
Anda dan pasangan saling mengetahui nomor rekening bank masing-masing, atau info penting lainnya. Hal ini menunjukkan bahwa kepercayaan adalah hal yang sangat penting dalam sebuah hubungan. Khususnya ketika membicarakan masalah sensitif seperti keuangan. Jika Anda dan suami bisa saling percaya soal keuangan masing-masing, berarti sebagai sepasang suami istri juga dapat saling percaya mengenai hal apapun.
»»  read more

Selasa, 08 Mei 2012

Cara Diplomatis Jawab Pertanyaan: 'Kok Nggak Jadi Nikah?

KATA KATA BIJAKKetika rencana pernikahan yang sudah di depan mata harus batal, kecewa, sedih, kesal atau marah pasti dirasakan oleh kedua belah pihak. Bagaimanapun juga, batal menikah tidak hanya menyakiti hati tapi juga melukai harga diri.

Saat rencana menikah batal, satu hal yang tak bisa dihindari adalah reaksi atau respon orang-orang sekitar. Sangat wajar bila ada teman, kerabat atau rekan kerja menanyakan penyebab Anda dan pasangan tidak jadi mengikat janji suci. Ketika berondongan pertanyaan datang, apa yang sebaiknya dilakukan?

"Jawab saja apa adanya, kalau Anda berani. Misalnya kalau diputusin, ya bilang aja diputusin," ucap Psikolog dan Direktur Personal Growth Counseling and Development Center Ratih Ibrahim, saat ditemui wolipop di Rukan Aries Niaga, Jl. Taman Aries, Kembangan, Jakarta Barat.

Dalam perbincangan pada Senin (7/5/2012) lalu tersebut, Ratih juga menyarankan jawaban yang paling diplomatis saat ditanya alasan batal menikah. Cukup menjawab, Anda dan pasangan tak berjodoh. Jika banyak orang terus mencecar pertanyaan yang sama setiap bertemu, yang bisa dilakukan adalah menghindari pertanyaan lanjutan dengan mengalihkan topik pembicaraan.

"Cara ketiga, nggak perlu dijawab, senyum aja. Kepala tetap tegap dan kita tetap berfungsi secara optimal di keseharian," tutur psikolog yang aktif menyelenggarakan berbagai seminar dan program pendampingan bagi remaja ini.

Trik keempat, adalah bangkit kembali dan 'menyerang balik'. Tunjukkan kalau bukan Anda yang pecundang. Katakan pada mereka yang bertanya, 'yang rugi kan dia, bukan saya'.

Hal itu juga berlaku bagi pihak yang membatalkan pernikahan. Menurut Ratih, dalam hal ini berlaku pepatah 'diam itu emas'.

"Yang paling diplomatis adalah bilang kalau Anda nggak berjodoh, dan tersenyum. Silence is golden, tapi hidupmu harus move on. Bisa aja kabur ke luar negeri misalnya. Tapi itu nggak akan menyelesaikan masalah. Kalau berani hadapin aja," tutur Ratih.

Ibu dua anak ini juga mengatakan, di awal-awal berita gagalnya pernikahan Anda memang akan ramai diperbincangkan dan jadi topik hangat di pertemanan maupun sanak saudara. Tapi seiring berjalannya waktu, gosip itu pun akan hilang.

"Orang pasti akan banyak bertanya dan bergosip. Tapi berapa lama sih gosip itu will stay? Saat kamu sudah move on dengan hidup kamu, omongan orang ya so what?" tandas wanita yang masih tampak segar dan muda di usianya yang hampir menginjak 50 tahun ini.
»»  read more

Menikah Nggak Cukup Cuma Modal Perasaan

Tips PasanganBerencana menikah tapi hanya punya modal cinta? Sebaiknya pertimbangkan lagi rencana tersebut. Menurut psikolog Ratih Ibrahim, modal perasaan saja tidak cukup untuk membina sebuah pernikahan.

Ratih mengatakan terkadang orang merasa dengan cinta saja bisa cukup untuk menjalani hidup berumah tangga. Padahal prinsip tersebut justru bisa jadi hal yang menjerumuskan. Ketika pasangan sebenarnya sudah tahu hubungan mereka tidak cocok atau hanya bisa bertahan dengan cinta, seharusnya hubungan itu jangan dilanjutkan hingga terlalu dalam.

"Dari awal lo udah tahu, don't go into there. Kalau sudah sampai jalan delapan tahun, itu elo kayak hamster yang lari di dalam kurungan (nggak ke mana-mana-red), itu kan stupid. Kalau sudah tahu no future, ngapain dijalanin," ujarnya.

Ratih menekankan hal pertama yang digunakan ketika akan mempertimbangkan untuk menikah adalah akal sehat. Perasaan cinta Anda pada pasangan perlu diselaraskan dengan akal sehat.

"Ini bukannya jadi, ih gila ya nggak berperasaan. Bukan gitu. Tapi akal sehat harus dipakai benar-benar. Apalagi perkawinan. Perkawinan itu akal sehat juga harus jalan bukan pakai makan perasaan aja," jelasnya saat diwawancara wolipop di kantornya di Taman Aries, Kembangan, Jakarta Barat, Senin (7/5/2012).

Kenapa perasaan jangan jadi modal satu-satunya untuk menikah? Menurut Ratih, hal itu karena, perasaan bisa hanya bertahan sementara. Sehingga satu-satunya hal yang bisa menyelamatkan pernikahan adalah akal sehat.

"Kalau akal sehat nggak dipakai terus cuma rasa doang, terus rasanya memudar, mau ngapain coba. Makan deh tuh perasaan," ujar Direktur Personal Growth itu sembari tertawa.

Selain akal sehat, yang juga harus dipertimbangkan ketika akan memutuskan menikah adalah keajegan atau kestabilan. Kestabilan ini bisa berbagai hal. Namun sebaiknya, untuk hal paling standar seperti kestabilan dalam hal sandang, pangan dan papan penting dipersiapkan, bukan hanya modal cinta.

"Cinta kan cukup untuk kita saling memiliki itu cuma ada di lagu aja. Kalau elo nggak makan pasti akan bete. Elo nggak akan sehat, otak juga nggak jalan, elo nggak berfungsi," tutur psikolog lulusan Universitas Indonesia itu.

Ratih melihat, ada banyak pernikahan berakhir karena masalah ketidakstabilan sandangan, pangan dan papan ini. "Bubaran lantaran ternyata laper itu nggak enak. Cinta, cinta, cinta, sudah berapa banyak yang bubar," tukasnya.

Saat menikah, menurut Ratih, pasangan juga sering lupa kalau mereka nantinya akan punya anak. Anak-anak tentunya tidak cukup dibesarkan hanya dengan modal perasaan atau cinta.

"Memang anak-anak itu bisa dikasih makan atau hidup karena bapak ibunya saling cinta doang? Bapak ibunya harus punya akal sehat, supaya tahu bagaimana bertanggungjawab untuk memberikan kehidupan yang pantas buat anaknya," tandas wanita yang rutin mengisi acara di sebuah radio sejak 2010 itu
»»  read more

Senin, 07 Mei 2012

Persiapan Mental Agar Pernikahan Tak Batal di Tengah Jalan

pernikahanSetiap pasangan pasti ingin rencana pernikahannya berjalan lancar hingga ke pelaminan dan menjalani kehidupan rumah tangga langgeng serta harmonis hingga kakek-nenek. Namun menyiapkan pernikahan bukan tanpa hambatan dan kendala. Di tengah jalan, bisa saja ada masalah atau keraguan hati yang akhirnya membuat pernikahan batal.

Salah satu faktor penyebab gagalnya menikah adalah ketidaksiapan mental. Oleh karena itu, ada hal-hal yang wajib dipertimbangkan baik dari pihak calon mempelai wanita maupun pria dalam persiapan mental sebelum memantapkan hati untuk menuju jenjang pernikahan.

"Persiapan mental kan ada aspek internal dan eksternal, yang internal dari diri sendiri. Tentu yang harus dilakukan oleh yang bersangkutan adalah kenal sungguh-sungguh dirinya, pasangan dan konteks," tutur Psikolog Ratih Ibrahim, saat ditemui wolipop di Rukan Aries Niaga, Jl. Taman Aries, Kembangan,

Konteks tersebut terdiri dari ideologi, politik, ekonomi, sosial, budaya, pertahanan dan keamanan (ipoleksosbudhankam). Ya, ibarat menciptakan ketahanan nasional dalam sebuah negara agar bisa maju, kuat dan berkembang, pernikahan pun memerlukan pondasi yang kuat untuk tetap kokoh, harmonis dan langgeng. Semua itu harus dimulai dari kesiapan sang calon mempelai sendiri untuk menikah.

"Aspek ipoleksosbudhankam, itu dia harus kenal semuanya. Sehingga pada saat maju menuju pelaminan sudah sangat tahu dan kenal diri sendiri. Jadi dia siap, siap artinya, apapun konsekuensinya dia tahu akan mampu menanggung dan menjalaninya," urai Ratih.

Apa itu ipoleksosbudhankam dalam persiapan pernikahan? Ideologi misalnya, apa prinsipnya dalam hidup dan tujuannya untuk menikah? Sosial budaya, tentunya berkaitan dengan status sosial dalam masyarakat, pendidikan, pekerjaan, suku, agama, persetujuan dari keluarga kedua belah pihak, dan sebagainya. Sementara pertahanan dan kemanan, semantap apa Anda memutuskan untuk menikah dan sudah siapkah dengan segala konsekuensi dari pernikahan? Bisakah Anda tahan dengan semua kendala atau tantangan yang mungkin mendera di tengah-tengah proses persiapan pernikahan?

Sementara untuk yang sifatnya eksternal, termasuk keluarga, para mantan kekasih maupun gebetan yang mungkin 'menyalip di tikungan'. Semua itu bisa diminimalisir kemungkinannya jika aspek internal tadi sudah terpenuhi.

"Jadi dia bisa fokus pada perkawinan dan tahu itu the right persin buat dia. Jadi orang-orang yang mungkin nyelip bisa diminimalkan. Pihak pasangan juga idealnya melakukan hal yang sama.

Ratih mencontohkan soal perbedaan agama. Jika berhubungan dengan pasangan yang berbeda agama, tentunya masing-masing harus tahu apa konsekuensi jika jalinan asmara itu dilanjutkan hingga ke jenjang pernikahan.

"Kalau kamu tahu agama sudah jadi masalah dari sejak pacaran, ya nggak usah diteruskan. It's so silly ketika kamu tahu ada perbedaan agama, tahu keluarga masing-masing tidak akan merestui, dan kamu sendiri sangat dilema tapi tetap dilanjutin, it's stupid aja," tukas wanita yang sehari-harinya bekerja sebagai direktur di Personal Growth Counseling and Development Center ini.

Perbedaan agama tidak jadi masalah andaikan sudah ada kesepakatan. Misalnya, masing-masing berkomitmen untuk menjalani agamanya sendiri-sendiri dan tidak akan mencampuri keyakinan satu sama lain dalam pernikahan. Atau, salah satu ada yang bersedia mengikuti agama yang lainnya.

"Tapi kalau bisa agamanya sama deh," tambah Ratih.
»»  read more

Orangtua yang Anaknya Gagal Menikah: Shock, Terpukul Hingga Memohon

pernikahanKetika Anda gagal menikah secara mendadak, tentunya akan merasa sedih. Apakah hanya Anda? orangtua pun merasa shock, terpukul hingga memohon agar pernikahan dilanjutkan.

Permohonan agar pernikahan itu jadi digelar dialami pasangan Koko dan Nia, bukan nama sebenarnya. Keduanya seharusnya menikah Maret 2013. Namun pernikahan tersebut batal karena jalinan cinta mereka kandas pada Januari 2012 lalu. Koko merasa Nia sudah sangat berubah, tidak seperti wanita yang dulu dikenalnya. Otomatis keduanya pun batal menikah.

Pembatalan pernikahan ini, menurut Koko, sangat membuat sedih orangtua Nia. "Gue datang ke rumah orangtuanya untuk minta maaf. Ibunya mohon-mohon supaya nggak batal," kisah pria 32 tahun yang bekerja sebagai konsultan keuangan itu saat berbincang

Permohonan ibunda Nia itu sempat membuat hati Koko luluh. "Akhirnya gue tahan, tunggu tiga minggu. Tapi setelah tiga minggu, dia nggak berubah, akhirnya pernikahan tetap dibatalin," ujarnya.

Orangtua Nia, terutama ibunya, sangat sedih. Dia merasa Koko adalah calon suami yang pas untuk putrinya dan sudah dianggap keluarga.

Perasaan terpukul juga dialami orangtua Marsha, pasca putri mereka gagal menikah dengan Dion (bukan nama sebenarnya). Apalagi pembatalan pernikahan itu datang dari Dion. Pria tersebut memutuskan membatalkan pernikahan enam bulan sebelum hari-H. Penyebabnya, Dion menemukan ketidakcocokkan dengan Marsha.

"Nyokap terpukul banget. Gue anak pertama dan satu-satunya anak perempuan," kata Marsha (35 tahun) yang berprofesi sebagai pegawai di sebuah perusahaan di bidang pendidikan itu.

Marsha masih ingat bagaimana dulu ibunya terlihat bahagia saat dia memberitahukan akan menikah dengan Dion. Otomatis ketika dia memberitahukan kalau pernikahannya batal, sang ibu pun shock dan sedih. "Untung bokap tegar dan bisa nenangin gue dan nyokap. Akhirnya kita semua ikhlas ngejalaninnya," jelasnya.

Kekecewaan karena putrinya gagal menikah juga dialami orangtua aktris dan penyanyi Nuri Maulida. Kedua orangtua dan seluruh keluarganya tentu kecewa Nuri batal naik pelaminan. Pernikahan batal digelar setelah calon suami Nuri, Ferry dituduh melakukan penipuan.

"Namanya orang dibohongin pasti marah. Tapi diselesaikan secara dewasa saja," ujar bintang sinetron 'Cinta Fitri' itu bijak.

Psikolog Ratih Ibrahim melihat kekecewaan dan perasaan terpukul orangtua yang anaknya batal menikah ini sebagai sesuatu yang wajar. Apalagi jika orangtua sudah punya keinginan atau niat tertentu. "Mungkin ibunya mau dapat cucu, atau orangtuanya sudah membiayai perkawinannya, atau ingin memperbaiki status sosial," jelas Ratih.

Hanya saja sebaiknya perasaan sedih atau kecewa ini jangan sampai membuat calon pengantin yang batal menikah semakin terpuruk. Anda yang gagal menikah, sebaiknya melihat lagi apa itu hakekat dari pernikahan agar tidak larut dalam kesediahn.

"Pernikahan itu sebetulnya hakekatnya apa? Yang menikah siapa? Dua sejoli ini atau orangtuanya? Dikembaliin aja ke situ," jelas Ratih saat diwawancara wolipop di kantornya Personal Growth di Taman Aries, Kembangan,

Ditambahkan Ratih, calon pengantin yang sedang terpuruk juga tak perlu terlalu berusaha untuk menjaga perasaan orangtua. "Mereka akan sembuh dengan sendirinya kok. Palingan heboh-heboh gitu kan? Nah ketika hebohnya itu, kita bisa ngapain? Nggak bisa ngapa-ngapain. Ya udah gimana, paling dianggap jadi cobaan dalam hidup," tandasnya
»»  read more

Wanita Lebih Suka Berkeliling Dunia Ketimbang Menikah

wanitaMenikah dan memiliki anak sepertiya tidak lagi menjadi impian banyak wanita saat ini. Survei menemukan, bahwa wanita Inggris cenderung lebih suka traveling keliling dunia daripada mengucap 'I do'.

Sebuah jejak pendapat yang dilakukan oleh Bing, menemukan bahwa menikah tidak lagi menjadi prioritas utama para wanita. Survei tersebut mengemukakan bahwa yang menjadi urutan pertama dalam 'daftar yang harus dilakukan' wanita di Inggris adalah mengelilingi dunia. Sedangkan menikah atau mempunyai keluarga berada pada posisi kedua.

Menurut sosiolog, Jenni Trent Hughes, pergeseran prioritas tersebut dikarenakan wanita masa kini jauh lebih merdeka dan bebas ketimbang ibu dan nenek mereka sewaktu dulu.

"Menikah berada di dalam dafta teratas bagi wanita yang hidup pada satu atau dua dekade lalu, tapi sekarang dengan kemerdekaan yang susah payah dicapai dan pijakan yang sama pada mata masyarkat, wanita pun memilh untuk berkeliling dunia sama dengan pria," jelasnya, seperti yang dikutip dari Daily Mail.

Sementara itu, survei yang sama juga menemukan bahwa berkeliling dunia juga menjadi prioritas utama pria dalam hidupnya. Kedua, tinggal di negara lain dan yang ketiga, memiliki keluarga. Mengendarai mobil F1 serta memiliki restauran juga berada dalam daftar mereka.

Berikut 10 daftar yang ingin dilakukan wanita Inggris dalam hidupnya.
»»  read more

Minggu, 06 Mei 2012

Agar Kehidupan Pernikahan Menjadi Lebih Baik

KebahagiaanMeningkatkan kualitas pernikahan Anda sebenarnya tidak sulit. Faktanya, ada beberapa tips-tips mudah untuk membuat hubungan Anda menjadi lebih bergairah. Seperti dirangkum dari She Knows, terdapat tiga langkah mudah untuk membina hubungan pernikahan menjadi lebih baik lagi.

1. Saling Terbuka dan Jujur
Semakin Anda dan pasangan saling terbuka dan jujur dalam segala hal, semakin kuat pula hubungan yang dibina. Akan mudah untuk membiarkan segala sesuatu berjalan tanpa harus dibicarakan. Tapi membuat usaha untuk membicarakan segala hal dengan pasangan, dapat mendorong kehidupan pernikahan Anda dan suami menuju ke level atau tahap baru yang dibutuhkan dalam kehidupan pernikahan menjadi lebih baik.

Mulailah saling membicarakan perasaan masing-masing, mulai dari rasa frustasi yang dialami, kehidupan sex, kemarahan, kekecewaan, dan juga apresiasi Anda terhadap satu sama lain. Berusahalah lebih keras untuk membicarakan setiap masalah yang muncul, hal ini juga dapat membantu meminimalisir konflik. Belajarlah untuk mendengarkan dan berkomunikasi, dibandingkan harus berkelahi.

2. Bekerja sebagai Tim
Salah satu hal terpenting untuk mejaga keharmonisan hubungan agar tetap berada pada jalurnya adalah kerjasama sebagai satu tim. Artinya Anda dan pasangan setuju untuk bekerjasama dan menyelesaikan suatu masalah yang muncul. Jangan sampai Anda dan pasangan terjebak dalam situasi siapa yang salah dan benar.

Ketika berhasil membangun hubungan kerjasama yang baik, masing-masing akan merasa di support satu sama lain dan juga dihargai. Lagipula, ketika Anda dan pasangan merasa saling memiliki kepentingan yang terbaik bagi pernikahan, maka sebagai pasangan juga akan menciptakan solusi terbaik bagi segala masalah. Tipe hubungan ini akan membangun lingkungan dalam rumah tangga yang penuh cinta dan kepercayaan dibanding harus saling bertengkar dan penuh amarah.

3. Saling Terhubung
sangat mudah tentunya membiarkan kehidupan sehari-hari Anda menghalangi keintiman bersama pasangan. mulai dari stress, urusan rumah tangga, jam kerja yang terlalu lama dan berbagai tanggung jawab sehari-hari lainnya. Hal tersebut tentunya akan menyita waktu Anda untuk dapat berkomunikasi satu sama lain. Padahal, komunikasi merupakan alat untuk tetap dekat satu sama lain dengan pasangan.

Buatlah suatu usaha untuk tetap saling berkomunikasi dalam berbagai cara di setiap kemungkinan. Karena tidak ada yang membuat pernikahan berjalan mulus selain menjaga keintiman Anda dan pasangan. Jagalah hubungan bersama suami dengan saling berkomunikasi, baik itu melalui sex, saling menunjukkan kasih sayang, pengertian dan tentunya saling peduli satu sama lain.
»»  read more

Kamis, 03 Mei 2012

Duh! 3 Bersaudari Nikahi Satu Pria yang Sama

pernikahanSaudari kembar Vicki dan Valerie Darger (42) tak hanya memiliki selera berbusana dan gaya dandan yang serupa. Mereka pun memiliki suami yang sama, yakni Joe (43).

Mereka berdua tidak bermasalah dengan hal berbagi suami. Oleh karena itu, Joe juga menikahi saudari sepupu mereka yang bernama Alina. Kini keluarga besar ini tinggal seatap di Salt Lake City, Utah, Amerika bersama 24 anak mereka. Joe pun bergantian melayani istrinya dalam hal seksual di tiap kamar mereka yang berbeda-beda.

Awalnya, Joe yang memiliki usaha di bidang konstruksi bangunan ini menikahi Vicki di usia 18 tahun dan di hari berikutnya ia juga menikahi saudari sepupunya Alina di tahun 1990 dalam upacara Mormon.

Saudari kembar Vicki yang bernama Valerie menikah dengan seorang pria tua bernama Donald yang telah memiliki istri sebanyak 6 orang. Ia kemudian bercerai karena kebiasaan berjudi dan perlakuan kasa sang suami.

Pasca bercerai, Valerie dijodohkan oleh saudari kembarnya untuk menikahi Joe. Alhasil Valerie menikah dengan Joe di tahun 2000 dan menikah dalam kesetaraan kepercayaan agama Mormon.

"Aku tahu ada orang yang tidak nyaman melihat dua bersaudari berbagi suami. Tapi kalau memang si suami cocok dengan satu saudarinya, pasti ia bisa cocok dengan saudari yang lain," ujar Vicki menjelaskan tentang Joe yang menikahi Valerie. Joe menambahkan, "Aku tertarik dengan keduanya dan hubungan antar individu akan berkembang seiring waktu."

Alina juga mendukung keputusan Joe karena ingin melihat Joe dan Valerie bahagia. Namun pernikahan poligami dengan Valerie yang dilakukan Joe dilakukan secara diam-diam dan membuat mereka diinvestigasi oleh pihak berwajib setelah beberapa tahun berjalan.

Dua tahun lalu, mereka pun membuka kepada publik tentang kehidupan poligami dalam sebuah buku berjudul 'Love Times Three.' Dalam buku tersebut menceritakan pengakuan dari mereka bertiga dan beberapa anak mereka yang sudah dewasa.
»»  read more

Senin, 30 April 2012

Agar Tidak Menikah dengan Pria yang Salah

Setiap orang yang menikah tentu ingin pernikahannya langgeng hingga akhir hayat. Namun terkadang, impian memiliki rumah tangga yang bahagia tidak seindah harapan Anda.

Di tengah-tengah perkawinan tidak jarang wanita merasa salah memilih pasangan. Pertikaian pun mulai muncul, dan perceraian dipilih sebagai jalan tengahnya. Tentu Anda tidak ingin bernasib sama. Untuk itu sebelum buru-buru memutuskan untuk menikah simak tipsnya berikut ini, seperti dilansir Cosmopolitan Amerika.

1. Mengetahui Masa Lalunya
Untuk mengetahui masa depannya adalah dengan melihat masa lalunya. Meski si dia mengatakan telah berubah, namun Anda harus betul-betul melihat perubahannya. Jika si dia dulu hobi selingkuh dan tipe pria playboy jangan langsung meng-iyakan ketika si dia mengajak Anda menikah. Anda perlu waspada dan melihat sikapnya terlebih dahulu.

2. Melihat Kelebihan dan Kekurangannya
Si dia memiliki pekerjaan yang bagus dengan gaji yang lumayan, itu tentu bisa dimasukkan ke dalam daftar kelebihannya. Tapi lihat juga kekurangannya. Pekerjaannya mungkin menuntutnya bekerja lebih giat dan sering pergi ke luar kota. Hal itu mungkin bisa mengganggu Anda dan masalah bisa muncul dari situ.

Jika Anda tipe wanita yang memiliki banyak teman dan merasa tidak masalah jika sering ditinggal oleh pasangan, maka rutinitasnya yang sibuk tidak menjadi masalah. Tapi jika Anda tipe wanita yang suka diam di rumah dan sangat mementingkan kuantitas pertemuan, maka Anda akan merasa tersiksa dan merasa sangat kesepian. Jadi, Anda harus mengetahui kelebihan dan kekurangnya dari berbagai sudut.

3. Jangan Menikah karena Anda Bergantung dengannya
Saat ini si dia memiliki karir yang baik dan memiliki gelar S2, si dia pun bercita-cita akan memiliki perusahaan sendiri dalam waktu lima tahun ke depan. Kemapanan si dia itu mungkin bisa membuat Anda semakin yakin akan menikah dengannya. Tapi jangan mau menikah dengannya karena Anda menggantungkan kehidupan finansial kepadanya. Ketika lima tahun yang akan datang si dia belum memiliki perusahaan, Anda bisa kecewa dan menuntutnya untuk bisa lebih karena Anda sudah terlalu berharap banyak.

4. Lihat Keluarganya
Saat ini mungkin Anda masih berpikir tidak peduli dengan keluarganya, toh Anda yang akan menjalani rumah tangga dengan putranya. Tapi kehidupan pernikahan tidak semudah itu. Ketika Anda melahirkan, libur panjang atau hari besar keagamaan, maka Anda akan bertemu dengan keluarganya. Jika dari masa pacaran Anda merasa tidak cocok dengan keluarganya, maka Anda harus memikirkan lebih lanjut. Keluarganya bisa berperan besar dalam kehidupan rumah tangga Anda dan pasangan.

5. Tidak Ada Chemistry
Meski sudah pacaran bertahun-tahun, bukan berarti Anda dan pasangan dituntut untuk menuju ke pelaminan. Jika memang sudah tidak ada letupan-letupan cinta lagi sebaiknya jangan dipaksakan. Chemistry sangat penting dalam menjalani hubungan. Jika masih dalam tahap pacaran, Anda sudah merasa tidak memiliki feeling lagi, sebaiknya pikirkan kembali kelanjutan hubungan Anda berdua.
»»  read more

Sabtu, 28 April 2012

Justin Bieber Baru Akan Tunangan 10 Tahun Lagi

Justin BieberMenikah, nampaknya masih jauh dari pikiran seorang Justin Bieber. Merasa masih terlalu muda, pelantun lagu hits 'Boyfriend' ini masih akan menunggu lima atau 10 tahun lagi untuk bertunangan. Dan, itu belum tentu dengan Selena Gomez.

"Tidak, aku terlalu muda (untuk menikah). Suatu hari, aku akan bertunangan ketika sudah menemukan pasangan yang tepat dalam lima atau 10 tahun ke depan. Tapi tidak berarti Selena bukan orang yang tepat! Dia akan membunuhku kalau aku bilang begitu!" tutur Justin kepada sebuah surat kabar Prancis, seperti dikutip dari Contact Music.

Remaja berusia 18 tahun itu juga mengakui, berpacaran di depan publik adalah suatu hal yang sulit dilakukan. Tapi itu sudah disadarinya dengan statusnya yang kini sebagai selebriti dan terkenal.

"Tidak mudah punya hubungan asmara di usia yang sangat muda, dan dengan seseorang yang juga dikenal publik. Tapi, yah, aku adalah figur publik, ini yang aku mau dan aku harus menghadapinya," tambah Justin.

Senada dengan Justin, sang kekasih Selena pun sebenarnya tak terlalu nyaman saat harus mengumbar kemesraan di depan umum. Seperti kejadian yang dialaminya belum lama ini, dia dan Justin harus berciuman di depan ribuan penonton saat pertandingan basket LA Lakers melawan San Antonio Spurs.

"Itu adalah peristiwa paling memalukan yang pernah terjadi dalam hidupku," katanya.

"Ada pasangan tua dan mereka sangat lucu. Tiba-tiba kamera menyorot kami dan kami ada di layar dan itu sangat aneh. Aneh sekali. Kita harus ciuman bukan?," tuturnya.

»»  read more

5 Kondisi Anda Perlu Menemui Konsultan Pernikahan

wanitaSemua orang tahu bahwa kehidupan pernikahan tak selamanya mudah. Jika Anda dan pasangan memerlukan bantuan dari pihak ketiga, sebaiknya jangan ragu untuk menemui konsultan pernikahan.

Banyak pasangan memilih untuk mengatasi masalah sendirian, ketimbang harus meminta bantuan orang lain. Namun menurut Dr. Phil --psikolog yang sering tampil di acara talkshow Oprah-- tak jarang hal itu justru
semakin memperburuk masalah. Sebelum terjadi pada Anda, simak beberapa masalah yang bisa menjadi alasan untuk mengunjungi konsultan pernikahan, seperti yang dikutip dari psychcentral.

1. Komunikasi Menjadi Negatif
Apabila komunikasi memburuk, akan sulit untuk mengembalikannya ke jalan yang benar. Komunikasi negatif biasanya menjadikan salah satu pasangan merasa tertekan, tidak aman, diabaikan atau menarik diri dari
pembicaraan. Komunikasi negatif juga termasuk nada bicara. Penting untuk diingat bahwa komunikasi bukan selalu berarti apa yang ingin disampaikan, tetapi bagaimana cara menyampaikannya.

2. Salah Satu Pasangan Berselingkuh
Memulihkan diri dari kasus perselingkuhan bukannya tidak mungkin, namun membutuhkan waktu dan usaha yang besar. Diperlukan komitmen dan kemauan agar bisa saling memaafkan dan mau mengikhlaskannya. Saat perselingkuhan terjadi, biasanya salah satu pasangan merasa sendiri dan ditinggalkan. Oleh karena itu, dukungan dari orang luar bisa sangat membatu.

3. Hanya Sebagai 'Teman Sekamar'
Ketika pasangan tidak lagi menjadi suami-istri melainkan 'teman sekamar', mungkin inilah saatnya bertemu dengan konsultan pernikahan. Jika pasangan tidak lagi berkomunikasi, menunjukkan keintiman dan hanya hidup 'berdampingan', konsultan pernikahan bisa bantu mencari tahu serta mengembalikan sesuatu yang hilang dalam kehidupan pernikahan.

4. Ketika Satu-satunya Solusi Adalah Berpisah
Saat pasangan sedang bersitegang, ada baiknya jika mereka megambil 'waktu istirahat' untuk memulihkan pikiran. Namun ketika 'waktu istirahat' berubah menjadi semalam, sehari dan bahkan tinggal berjauhan, inilah saatnya mereka membutuhkan konseling. Menghabiskan waktu dari rumah biasanya tidak bisa mengatasi masalah, justru memperkuat pemikiran 'berjauhan sangat membantu'. Ingat, pasangan tidak lagi ada di dekat Anda, tetapi masalah akan tetap ada sampai Anda bisa menyelesaikannya.

5. Tetap Bersama Demi Anak-anak
Tidak sedikit pasangan yang merasa telah melakukan yang bijaksana, saat mereka tetap demi anak-anak mereka. Nyatanya, tinggal bersama yang 'dipaksakan' justru bisa merugikan sang buah hati. Pikirkan kembali keputusan dan kosultasikan kepada pakar yang bisa membantu Anda. Jika pasangan mampu mengatasi masalah dan bergerak ke arah yang positif, mungkin itu adalah keputusan yang terbaik bagi semua pihak.
»»  read more